Hari senin kamu membosankan? coba deh baca ini

Biasanya beberapa orang tidak suka dengan hari senin bahkan untuk senyum di hari senin saja agak kesulitan. Entah berwujud seperti apakah si pengawal hari yang satu ini sehingga beberapa orang enggan bertemu dengannya. Bagaimana tidak, setelah melewati weekend mereka harus kembali pada rutinitas yang lebih sering memakan waktu dan pikiran mereka, baik itu berkerja maupun sekolah. Pikiran yang tenang karena liburan harus segera kembali dengan kegiatan yang memuakkan bagi sebagian orang.

Namun tidak semua demikian, sebagian lagi lebih memiliki menikmati hari yang dilalui, meskipun sebenarnya ada perasaan bosan tapi mereka menjalani dengan semangat seperti biasanya. Tentu saja karena rasa syukur di hatinya.

Senin (13/3) Saya mencoba menyaguh sepedah menuju salah satu rumah anak asuh yang terletak di Cagak-Gunung Putri. Sepedah menjadi pilihan alih-alih bisa membakar lemak di tubuh yang naik 10 kilo menjadi 55kg ini. Setiap kali mengunjugi mereka memang tidak pernah memberi kabar terlebih dahulu karena saya selalu ingin tahu apa yang mereka lakukan setiap harinya.

Keluarga ini saya kenal tiga tahun lalu dari sebuah akun media sosial yang memberitakan tiga orang anak kecil ikut membantu seorang ibu mencari rongsokan untuk biaya berobat sang ayah yang mengidap Diabetes. Karena lokasi yang tidak jauh dari rumah, membuat saya dan dua rekan lainnya mengunjungi kediaman Bapak Tarmijo. Laki-laki berusia 50 tahun ini sudah lama mengidap diabetes dan kini harus segera dilakukan operasi, sedangkan mata pencarian istinya hanya seorang pencari barang bekas. Niken, Kiki dan Fikar selalu ikut dengan sang ibu ketika hendak mencari barang bekas. Mereka terpaksa melakukan hal tersebut demi kesembuhan sang Bapak. Singkat cerita beberapa lembaga membantu keluarga tersebut hingga akhirnya bisa di operasi. Namun Allah berkata lain, 14 Agustus 2016 lalu Bapak Tarmijo meninggal dunia.

Ibu Sri (47 tahun) terpaksa menjadi tulang punggung keluarga pasca meninggalnya sang suami. Ibu tiga anak ini selalu bersemangat setiap kali saya mengunjungi kediaman mereka. Tidak pernah sekalipun saya melihat wajahnya murung meskipun sebenarnya dalam keadaan kesulitan. Giat adalah sikap yang dimiliki ibu ini. Bagaimana tidak? ia harus menghidupi tiga orang anak yang masih bersekolah dasar dan merawat orangtua perempuannya dengan bermodalkan rongsokan atau barang bekas. Wanita super ini setiap harinya berkeliling mencari barang bekas di sekitar Gunung Putri-Kabupaten Bogor pukul 08.00 setelah anak-ankanya berangkat sekolah dan pulang pukul 12.00 saat anak-anaknya sudah dirumah.Setiap satu kilo botol bekas dibandrol Rp 2.500 oleh pengepul. Paling banyak berhasil menjual 50 kilo per hari, tidak tentu bergantung temuan barang bekas dihari itu. Pekerjaan membersihkan botol bekas pun ia terima dengan upah Rp 1.000/kilogram botol bekas. Jika dikalkulasi paling banyak ia menerima upah Rp 300.000/bulan. Pernah merasakan penghasilan terbesar sekitar Rp 400.000/bulan namun itu baru sekali ia rasakan.

Bekas bangunan TK yang diberikan salah satu warga menjadi tempat tinggal mereka saat ini, tempat yang lebih layak huni ketimbang tempat sebelumnya yang porak poranda akibat hujan angin yang menyambar.

Keadaan ini tidak membuat ia bersedih justru selalu mensyukuri apa yang didapatnya setiap hari. Cinta keluarga yang menggerakan dirinya terus mencari rezeki tanpa menghakimi sang kuasa dengan keadaan yang dirasa.

Sore tadi, Ibu Sri bercerita tentang pekerjaan sampingannya yang menjual jasa memasangkan stiker pada botol kemasan. Setiap 30 tutup botol atau 30 stiker dibandrol dengan harga Rp 60.000. Keluarga ini tumbuh lebih mandiri dari sebelumnya.

"Lumayan mba untuk nambahin jajan anak sekolah" kata ibu tiga anak ini. Kegigihannya mencari nafkah sangat mengetuk hati, disaat orang diluar sana kurang bersyukur atas apa yang mereka miliki, Ibu asal Jawa Timur ini justru sangat menikmati perannya dalam mencari rezeki.

Beruntung semangat belajar ketiga anaknya yang masih sekolah dasar didukung oleh  program Yatim Bright Sekolah Relawan. Yatim Bright Sekolah Relawan memberikan bantuan berdasarkan kebutuhan sekolah si anak seperti alat tulis, perlengkapan sekolah hingga biaya sekolah. Anak-anak juga memiliki mentor yang akan mengontrol kegiatan dan pelajaran mereka setiap dua pekan sekali dan akan lebih intens jika musim ujian datang. Dana yang dibutuhkan biasanya langsung diberikan kepada pihak sekolah untuk menghindari penyalahgunaan dana. Program ini membuat anak seperti mereka bisa melanjutkan pendidikan tanpa terganggu oleh faktor ekonomi. Kedatangan saya pun bertujuan menyampaikan amanah donatur pada keluarga ini, memberikan sejumlah dana untuk menyelesaikan administrasi sekolah dan buku pelajaran.

Senin kali ini Ibu Sri membuat saya belajar untuk tetap bersyukur atas apa yang kita miliki. Beliau yang mata pencariannya seorang pengumpul barang bekas saja selalu bersemangat dalam hidupnya, padahal banyak alasan untuk menyeluh jika ia mau. Pekerjaan sampingan itu pun menggambarkan betapa besarnya perjuangan seorang ibu dalam menghidupi keluarga.

Oya, Ibu Sri masih memiliki hutang sebesar Rp 400.000 yang dipinjam dari kas majelis tempat tinggalnya untuk biaya berobat sang ibu yang kini hanya bisa terbaring karena stoke. Bagi teman-teman yang ingin berbagi meringankan beban beliau, mari saya antar silaturahmi kerumah Ibu Sri.  Ingat ya... berbagi tidak selalu dengan materi, so..teman-teman juga bisa bantu share informasi tentang ibu Sri yang menerima jasa penempelan stiker ini.

Ayo... jadikan hari senin kamu lebih menginspirasi.

Let's Share!




Posting Komentar

Made with by OddThemes | Customized by duniaqtoy