Surat untuk alvin






 “ laras .. bangun .. maafkan aku ... aku menyesal ...”


Bisikan alvin terus terucap ditelinga laras sebari mengusap-usap kening laras yang saat itu sedang  terbaring tak berdaya dengan infus di tangan kirinya serta, selang oksigen yang menempel di hidungnya ...
Alvin terus meneteskan air mata .. tak henti-hentinya ia menyalahkan dirinya .. 


“kalau saja hari itu tak terjadi, mungkin laras tak akan seperti ini fit,,, sungguh ,, aku menyesal memperlakukannya seperti ini”


Aku menghampiri alvin dengan rasa tak tega melihat kondisi alvin yang terus menurus menyalahkan dirinya dan hendak membawa alvin keluar dari ruangan ICU ,


“vin,, kita keluar yuk .. biarkan laras beristirahat,”


Alvin hanya mengangguk dan keluar dari ruangan icu dengan tetap menatap ke arah perempuan itu sampai tak terlihat lagi oleh pandangan matanya ...


Alvin yang saat itu sangat terpukul atas apa yang terjadi dengan laras, tak banyak yang bisa ia lakukan ,, ia hanya duduk diruang tunggu sebari menatap pintu ICU dimana laras terbaring lemah tak berdaya ....
Berkali-kali aku melihat alvin yang meneteskan air mata dan berusaha untuk tetap tegar menerima kondisi laras saat ini ...


Hampir satu minggu laras terbaring di ruangan itu. Sama sekali tak sadarkan diri…


Laras, Sifatnya yang periang membuat ia mudah beradaptasi dengan orang yang baru ia kenal, sekalipun hanya sekedar mengenalnya di dalam kereta maupun dalam bus. Jiwa sosialnya yang tinggi membuat ia tak betah bila tidak ikut andil dalam kegiatan yang dapat membangun negrinya itu. tertawa, bercanda, suasana ramai itulah yang aku ingat ketika ada sosok laras .. dimana laras berada disitu pula suasana pecah menjadi ramai .. seketika menjadi banyak wajah yang tertawa ... 
kekonyolan inilah yang membuat aku selalu ceria dan termotivasi karenanya.


***

 
Malam itu laras memintaku untuk menemaninya dirumah, kebetulan jarak tempat kos ku dengan kediaman laras memang tidak terlalu jauh..
kami berteman semenjak kami duduk dibangku kuliah .. dari pertama menginjak kampus biru itu, laras adalah orang pertama yang aku lihat ..

Masih teringat jelas dalam pikiranku ... hari itu laras dengan riangnya menyapaku ....


“haii.. aku laras, kamu kuliah disini juga?” 


saat itu aku sempat mengerutkan dahiku, aku rasa perempuan ini begitu aneh, dengan sangat percaya dirinya ia mengulurkan tangan sebari tersenyum lebar dan mengucapkan nama .. padahal aku tak bertanya siapa dirinya ... 


“aku fitri, ia aku juga kuliah disini” sahutku dikala itu ...

“dari sekolah mana fit ? kalau aku, dari sma bina nusantara-jakarta” ujar laras dengan laga sok akrab

“aku dari sma labschool” jawabku


Aku ingat sekali saat itu ia sangat berenerjik dan benar-benar menunjukkan sikap seolah telah lama mengenalku ...
Hari-hari dikampus aku lewati bersamanya karena memang kita mengambil jurusan yang sama dan kebetulan kita satu kelas di kala itu.
Semakin hari aku semakin mengenal laras dan begitupun sebaliknya, kedekatan kami pun terlihat jelas di hadapan teman-teman kami.. sampai seisi fakultas ilmu fisika menjuluki kami semut dan gula.


***

 
Setibanya dikediaman laras, seketika suasana hening menerpa ditemani suara jangkrik di sekitar rumah yang menambah kesunyian malam itu ...
beginilah keadaan rumah laras, dengan rumah yang sebesar itu hanya dihuni oleh 3 orang saja ... ayah .. bunda .. dan laras ..
ayah dan bunda nya adalah seorang pembisnis yang tentu saja membuat mereka sering keluar kota meninggalkan laras dirumah ...


hanya pembantu rumah dan tukang kebun yang selalu menemani laras di setiap harinya .. tak lama, aku beranjak menuju kamarnya ... aneh ... setauku laras selalu mengunci pintu kamarnya ...
tapi ... malam itu aku melihat pintu kamarnya sedikit terbuka.


betapa tercengang aku melihatnya ... mata bulat ini langsung terbuka lebar .. melihat kondisi kamar  laras bagaikan kapal pecah ..
aku tahu betul laras adalah seorang yang apik, terlebih soal kamarnya yang merupakan tempat favorit dirumah itu ...


kertas .. tisu .. baju .. tas .. sepatu .. bantal tergelatak dilantai bahkan sampai spray pun tak lagi menyelimuti kasur yang besar itu.. sungguh tak karuan, seperti pasca gempa ..



"laras .... ini aku fitri ... ras .. kamu ada didalam ? "



tak ada jawaban apapun dari sahutan ku .. aku terus melihat sekeliling kamar itu dan mencari-cari dimana laras berada .


oh tuhan ... apa yang terjadi dengan sahabatku ini ....


.. duduk di pojong ruangan sebari melipat kedua kakinya, hingga jarak lutut sangat dekat dengan dada. posisi kepala yang terlihat sangat berat membuatnya menempel diatas lipatan kedua tangan..
genggaman tangan yang begitu erat memengang bahu secara bersilangan semakin membuatku bertanya-tanya ... ada apa dengan dirinya ...


Aku menghampirinya dan tanganku lekas menyentuh bahunya yang saat itu terlihat penuh beban.
laras menoleh, dan lagi-lagi aku dibuatnya tercengang melihat laras yang begitu kacau ,, matanya sungguh hitam, lebam seperti orang habis menangis seharian ...


aku tak berani berkata apapun kepada laras, aku hanya memeluknya sebari membelai rambutnya ,, karena tampak jelas sekali laras membutuhkan perlakuan itu ....


aku masih tak berani bertanya ,, karena laras masih terus menagis ..
entah apa yang ia rasakan, tapi sepertinya begitu dalam, karena ia terus meneteskan air mata hanya saja tak besuara ..
hanya air mata yang terus mengalir derasnya ... sesekali laras menarik nafas panjang dan menagis lagi ....

aku biarkan laras dalam tangisan itu, dan ketika ia sedikit tenang barulah aku bertanya ...


" ras ..., hey sobat .. ada apa dengan dirimu "  suara lembut ini menyapa laras ..


ia hanya melihat ke arah ku dengan masih meneteskan air mata ... entah apa yang ia rasakan saat itu .. tapi keterpurukan terlihat jelas diraut wajah mungilnya ...


sungguh tak tega aku melihatnya ... laras yang begitu ceria ternyata bisa menanggis sedalam ini .. matanya tak bisa membohongiku bahwa ia menyimpan luka yang teramat dalam ...


tatapan kosong itu masih setia melihat aku dengan harapan seolah meminta bantuan agar terlepas dari semua beban ...
kegundahanku semakin menjadi, merasuki otakku dan berjalan menyentuh hatiku yang penuh tanya ...

sesekali bibir tipis itu kumat kamit menyebut nama seseorang .....


" maafkan aku .... "


berkali-kali aku mengerutkan dahi, mendengar perkataan itu .. pikiranku mulai melayang-layang membayangkan sesuatu yang buruk telah menimpa sobatku ini ...


dan ia mulai bicara dengan nada yang sedikit terdengar "alvin fit .. alvin .. " hanya Alvin .. Alvin dan Alvin kata berikutnya yang ia ucapkan ,,,


kepalaku mulai terasa ingin meledak menyimpan pertanyaan yang bergerombol melintasi pikiranku, dan memaksaku untuk segera tahu penyebab kesedihan itu ...
namun apa daya .. hati tak cukup kuat untuk bertanya dengan kondisi laras yang begitu terlihat kacau ...



***



Sesaat kemudian, laras beranjak dan berbaling sebari menatap keluar jendela, melihat langit mendung yang seolah mendukung hati yang terapung .....


Laras berbaring dengan menekuk badannya hingga ia dapat menyentuh lututnya sendiri .. aku masih tak berani bertanya banyak, aku rasa saat ini dia hanya membutuhkan seseorang untuk menemaninya meskipun ia tak bercerita ..
Aku hanya terdiam disamping laras.. menunggunya hingga tenang dan bercerita ...

Akhirnya penantianku terjawabkan ..


“ alvin bekata ia telah kecewa karena sikapku“ laras memulai pembicaraan


Alvin adalah kekasih laras yang hampir satu tahun menjalin hubungan dengannya,  alvin masih satu kampus dengan kami namun berbeda fakultas ...


“ iya.. tapi ... aku tak habis fikir, mengapa kamu begitu terlihat hancur seperti ini ? bukankah kamu sesorang yang tak mau terlarut dalam kesedihan ? lantas ada apa dengan semua ini ? mengapa kamu terlihat kacau sekali ? 

 Tak kuasa aku menahan beribu pertanyaan di otak ku ini .. sehingga seketika serentetan pertanyaan aku lontarkan kepada sahabatku di hari itu..


Laras membalikkan badannya dan menatapku ...


“ ini semua salah ku fit .. ini salah ku .. “


Aku semakin tak mengerti semua perkataan laras, aku hanya berusaha menenangkannya sebari berharap ia akan meneruskan pembicaraan ini ..


“ nyaliku terlalu ciut, untuk menunjukkan apa yang aku rasakan kepada alvin  .. alvin terlampau salah paham padaku fit .. “


“ ini salah mu ? salah paham ? bisakah kamu menjelaskan semua ini ?? agar aku bisa memahami dengan baik apa yang terjadi “ jawabku kebingungan.


“ kamu tahu kan ?? aku ini bukan seseorang yang pandai mengungkapkan apa yang aku rasakan ... masa lalu itu fit .. masa lalu itu membuat aku takut untuk berkata jujur tentang apa yang aku rasakan .. masa lalu itu begitu menghantuiku ..  ketakutan ini sungguh tak berujung, aku hanya takut alvin tahu bahwa aku benar-benar menyayanginya “

ia hanya terus menerus menangis .. matanya tak bisa membohongiku .. sungguh .. aku kenal betul siapa dirinya ... aku tak tega melihat ini semua .. yang bisa aku lakukkan hanya menemani disampingnya saat itu ...



***


Laras memang selalu merasa kesepian ,, aku ingat laras pernah berkata kepadaku .. ia lelah dengan kondisi keluarganya yang selalu bertengar meributkan soal harta.. bundanya yang selalu tidak menghargai sang ayah ,, merasa suaminya itu tak pernah ikut andil dalam perkembangan keluarganya .. sang ibu yang selalu saja merasa kurang .. dan berfikir semua yang ia miliki saat ini adalah hasil keringatnya sendiri..

keluarganya begitu complicated ... memang dari luar terlihat seperti keluarga bahagia .. namun sayang itu tak seindah pandangan mata .... suasana sepi rumah itu merupakan salah satu faktor kesedihan laras ...
 


terlalu banyak penghianatan dalam kehidupan laras .. saat ia duduk di sekolah dasar, laras pernah memiliki seorang teman yang telah ia anggap sebagai sahabatnya ...

teman kecilnya itu adalah seorang yang broken home .
gadis itu selalu bersedih melihat kondisi sang ibu yang tak pernah lepas dari putung rokok. Tak jarang gadis itu tidak makan seharian karena sang ibu sering pergi keluar rumah ..
laras memang terlihat seperti acuh dan tak peduli ..

 namun ia memiliki hati yang seperti malaikat .. ia selalu membawakan makanan untuk gadis itu,
bahkan ia pernah mengajak gadis itu ke sebuah super market di dekat sekolahnya untuk membeli beberapa makanan ringan untuk sahabat kecilnya itu .. namun kebaikan laras ternyata disalah artikan oleh gadis itu .. karena sadar laras begitu baik kepadanya, kemudian ia justeru memanfaatkan kebaikan laras untuk memberikan apa saja yang ia iginkan ..

suatu hari laras sadar ternyata ia hanya di permainkan .. kesadaran itu membuat laras tak lagi membantunya ,, sampai akhirnya perasaan laras justeru dipermainkan oleh gadis itu ,,
gadis itu membuat surat untuk laras yang seolah-olah itu adalah surat dari seorang teman laki-laki di sekolahnya ... ternyata semua itu adalah rekayasa untuk meperolok laras di saat itu ...


Tak berhenti sampai disana, ternyata kisah dimasa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas pun menghasilkan cerita yang sama ..

Pernghianatan demi penghianatan selalu menimpa sahabatku ini .. pantas saja wajahnya begitu muram ketika menceritakan semua itu kepadaku ..

Begitu banyak luka yang tertanam di hatinya .. sedikit .. sedikit .. sedikit ... dan lama-lama menjadi sebuah tumpukkan yang menggunung ... namun betapa hebatnya dia, mampu menyembunyikan semua itu dari kami .. bahkan aku sendiripun tak pernah tahu soal itu .. aku tak mampu membayangkan jika aku menjadi laras, mungkin aku sudah menyerah pada dunia .. tak hanya kondisi pertemananya, namun kondisi keluarganya pun demikian.

Pantas saja kegiatannya begitu padat, dari mulai menjadi pengajar karate, aktivis kampus, bahkan ia masing sempat membantu belajar anak-anak pantu asuhan. Ternyata semua itu untuk mengalihkan arus tekanan batin yang terjadi pada dirinya .
Sungguh ... aku salut padanya ...


***


Waktu terus berlalu .. sampai akhirnya proses pendewasaan diripun harus ia lalui.. dan lagi-lagi ia dihadapkan oleh sebuah penghianatan ..

Seorang teman yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri ternyata menusuknya dari belakang .. seseorang yang selalu ia bantu .. laras selalu menyempatkan waktunya untuk perempuan itu .. disaat ia ditinggalkan oleh sabahat-sabahatnya .. hanya laraslah yang masih setia bersamanya .. padahal laras bukanlah orang yang dulunya dekat dengan perempuan itu .. namun ketulusan hati laras untuk membantunya bangkit dari keterpurukkan perempuan itu ternyata justeru perempuan itu dengan tega diam-diam menyukai laki-laki yang selama ini di kagumi oleh laras ..

Dunia seolah kejam .. membuat laras tak henti-hentinya bersedih akibat penghianatan demi penghianatan yang terjadi dalam hidupnya ... menambah tumpukkan luka menjadi semakin tinggi ....

Hal itulah yang menyebabkan laras untuk tidak mempercayai siapapun lagi ... mungkin taruma itu terlalu dalam .. semenjak kejadian itu laras berubah menjadi sosok yang menyebalkan ... tak lagi menghargai oranglain dan tak mempedulikan kesulitan oranglain .. laras yang dulu hatinya lembut dan penyayang saat itu telah berubah menjadi pendendam. Sifat egois yang luar biasa membuatnya lambat laun mulai tidak disukai oranglain ...

Namun .... disaat sulit seperti itu ..
Sosok manusia datang menghampiri dan menunjukkan berjuta pelangi yang terbuat dari senyuman ...
Alvin ... yaaa alvin ...

Entah ia datang di saat yang tepat atau tidak ...

Seingatku  saat itu hanya alvin yang dapat membuat senyuman itu hadir lagi di wajah laras, membuat laras sedikit demi sedikit kembali menjadi laras yang aku kenal .. alvin selalu membantu laras dalam segala hal, dari mulai membenahi hubungan laras dengan keluarganya sampai membantu laras melupakan luka yang tertanam karena sosok perempuan yang dianggap sebagai kakaknya tempo lalu. 


***


“ alvin telah salah menilaiku fit ... emosiku sering memuncak di depan alvin .. membuat alvin menjadi muak karena ulahku, aku sering sekali memarahi alvin .. fit ... kamu tahu kan semenjak permasalahan ini muncul, aku menjadi seperti ini .. aku sering sekali marah-marah dan tak bisa mengontrol emosiku di depan alvin “ laras kembali membuka pembicaraan itu. Mata sayu itu mencoba menerjemahkan isi hatinya.. 


“ jelaskanlah semua yang terjadi pada alvin. Agar alvin mengerti apa yang sebenarnya terjadi padamu “


“ aku ingin menjelaskan semua itu fit, namun aku tak tega bila harus terus menurus membebani fikiran alvin “


“ tapi,, sikapmu yang seperti ini justru akan membuatnya membencimu ras “


“ aku tak tahu apa yang harus aku lakukan fit .. biarlah ia salah paham .. biarkan saja, ini semua memang kesalahanku .. wajar ia menjadi sangat kecewa kepadaku .. di hari ulangtahunnya aku justru tidak menemuinya, aku hanya menitipkan kue untuknya .. 


“ tapi mengapa ? mengapa kau tidak menemuinya ? “
Laras menjawab dengan sebuah senyuman tipis “ aku malu “


“ malu ?? mengapa malu ? “ tanyaku heran.


“ saat itu aku tidak memiliki uang sepeserpun .. kau tahu fit ? kue yang aku berikan kepadanya adalah kue hadiah “


“ hadiah ? maksudmu hadiah bagaimana laras ? “


“ kau ingat, aku pernah berkerja sabtu minggu di toko kue? Saat itu pemilik toko berkata padaku, jika aku bisa menjual lebih dari 100 kue, maka aku akan mendapatkan satu buah kue tart gratis. Kue itu aku dapatkan secara gratis, karena aku berhasil menjual 160 kue tart. Bahkan aku menjual sampai ke daerah jakarta, demi mendapatkan kue tart gratis itu .. karena hanya itu satu-satunya cara untuk mendapatkan kado untuk ulangtahun alvin “ lagi-lagi tatapan kosong itu menyadarkanku betapa sedihnya perempuan ini.

“ apakah alvin tahu semua ini ? “ tanyaku.


Laras hanya menggelengkan kepala sebari berkata “ aku takut terlihat miskin dihadapannya, takut terlihat tidak bermodal”


Aku hanya menghelakan nafas ... rasanya ingin sekali mengampiri alvin dan mengatakan semua ini kepadanya .. alvin adalah sosok penguat bagi laras, mungkin laras memang tidak menunjukkan semua itu kepada alvin .. aku paham laras khawatir alvin hanya mempermainkannya jika ia menyadari bahwa laras begitu menyayanginya.


“ alvin begitu kecewa terhadapku fit .. dia menggangap aku hanya mempermainkannya .. ini memang salahku, ketika kami bertengkar selalu saja aku ingin memutuskan hubungan kita .. aku memang terlalu bodoh .. padahal sedetikpun tak bisa ku lewati tanpa dirinya.. "


" mengapa tidak kau jelaskan saja padanya ? "


" percuma fit ... saat ini ia sudah tak mau bertemu denganku lagi .. dia mungkin sudah membenciku .. aku tahu betul watak alvin ... ia akan menyayangi seseorang dengan sepenuh hati dan akan melakukan apapun asalkan orang itu bahagia, namun ketika ia kecewa ... sudah tidak ada lagi tempat untuk orang itu di hatinya "


" apa kau yakin ? apa kau yakin kau tidak lagi memiliki ruang dihatinya ? belum tentu bukan ? temui dia ras "


" sulit fit ... sulit .... aku berkali-kali menghubunginya .. jangankan membalas pesan dariku, telpon dariku saja tak satupun diangkat olehnya .... berkali-kali aku menghubungi namun hasilnya tetap sama .... tidak ada jawaban ... "


" mengapa ia bisa seperti ini ras ? bukankah ia begitu menyayangimu ?"


" kau benar ... ia begitu menyayangiku ... tapi mungkin itu dulu ... sebelum rasa kecewa itu ada ... aku hanya kesal fit ... aku marah pada diriku sendiri ... aku marah ... karena aku membuatnya terluka sampai ia tak lagi mau menemuiku ... mungkin ia sudah terlalu kecewa terhadapku ...  tapi tetap saja kecewanya dia tidak pada tempatnya ... dia salah paham fit ... salam paham dengan sikapku ... "


" salah paham bagaimana ras maksudmu ? " tanyaku bingung.


" ia kira aku hanya mempermainkan perasaannya .. tapi kenyataannya itu semua tidak benar .. aku hanya tak ingin terlalu menunjukkan perasaanku kepadanya .. mungkin dia memang bukan orang pertama dalam hidupku ... namun dia orang pertama yang aku kenalkan ke ayah dan bunda ku ..
dia orang pertama yang aku kenalkan kepada saudara-saudaraku ...
dia orang pertama yang selalu aku buatkan makanan ...
dia orang pertama yang aku akui di depan semua orang ...
dia orang pertama yang membuatku membeli sebuah buku resep masakan olahan ayam ...
dia orang pertama yang tau semua hal tentang aku ..
dia orang pertama yang aku percaya, sampai segala hal aku ceritakan padanya ..
dia orang pertma fit .... dia orang pertama .... " 

air mata laras masih saja berlinang ... sesekali laras mencoba menarik nafas dan berusaha tegar .. namun tetap saja ia tak kuasa menahan kerinduan itu ... memang sudah hampir dua bulan pasca pertengkaran mereka, alvin tak menghubungi laras ...

rasa kehilangan itu sangat jelas di wajah laras .. penyesalan sekaligus amarah bercampur aduk saat itu .. aku tak pernah mengira bahwa laras bisa serapuh ini ...

begitulah laras ... sangat jarang menaruh hatinya pada laki-laki, namun sekalinya ia mencintai seorang laki-laki .. ia tak pernah main-main dan tak pernah menginginkan hubungan yang sementara ...

sayangnya ... laras memiliki satu kekurangan yang sedari dulu selalu ia ulang .... yaa benar .. ia bukan seseorang yang mudah mengutarakan apa yang ia rasakan ... terkadang ia justeru terlihat salah di depan orang, hanya karena tak berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya ...


" laras ... apakah alvin tahu tentang semua hal yang pertama ini ? "  tanyaku dengan nada sedikit mendayu .


laras menggelangkan kepala ...


" laras ... katakanlah semua padanya agar ia tahu bahwa kau benar-benar menyayanginya ... beritahu ia tentang semuanya .. tentang kue itu, tentang pertama itu, dan tentang tulisan-tulisan yang kau buat untuknya ..
beritahukan semua kepadanya rassss " pintaku memelas ...


laras hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan air mata yang terus mengalir di pipinya itu ..
posisi tangan yang memengang erat kepala itu membuatku sangat .. sangat .... menyadari bahwa laras begitu terluka ....

tak banyak yang aku lakukan saat itu .. laras berpesan untuk tidak memberitahukan ini semua kepada alvin ... aku hanya bisa menemaninya hingga ia terlelap dalam tidurnya di malam itu ....




***



2 bulan berlalu .. kondisi laras bukan semakin membaik justeru semakin membuatku merasa teriris ... wajah cerianya hampir punah ditelan kesedihan. badannya berubah drastis. kurasa beratnya kini berkurang. tak banyak memang yang bisa aku lakukan.

hubungannya dengan alvin pun bukan semakin membaik justeru alvin semakin menjauh darinya. aku tak bisa berkata apapun karena akupun sulit menemui alvin. rasanya batin ini ikut terluka melihat sang teman yang begitu menderita.

setiap hari ia hanya memandangi telepon genggam miliknya, berharap ada pesan dari alvin. namun harapan itu pun sia-sia saja.. satupun angan itu tak tercapai.

entah apa yang ada didalam kepala alvin saat ini. alvin berubah menjadi sosok yang luarbiasa mengerikan. alvin yang aku kenal selalu berusaha bersama dengan laras disaat sulit maupun senang. aku tak mengerti karena alvin menghilang begitu saja.

isak tangis yang berasal dari wajah laras membuat aku merasakan betapa dalamnya kepedihan yang dirasakan laras. entah sampai kapan laras akan terus mengurung diri dan menyalahkan dirinya sendiri.

hmmm ....... itulah sifat terburuk laras menurutku.
laras selalu menyalahkan dirinya sendiri ketika ada seseorang yang terluka karenanya. terkadang memang seperti berlabihan, namun aku bisa mengerti semua itu karena laras takut kehilangan seseorang yang dia kasihi. pada siapapun itu. baik teman, atau yang lainnya....

seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya, terlalu banyak luka di dalam hati laras yang membuat ia hampir tidak mempercayai adanya cinta.
cinta baginya hanyalah hal yang sia-sia yang hanya membuang waktu saja.
sifatnya yang ceria dan selalu tertawa itu hanyalah kamuplase yang diciptakan oleh dirinya agar orang lain tak menyadari kekosongan di hatinya.
hatinya terlalu lama membeku membuat ia sedikit sulit menerima hadirnya cinta dari siapapun, namun ketika ia menjatuhkan hatinya kepada seseorang dia sungguh memberikannya dengan tulus. seluruh jiwanya diberikan...
bukan karena ia terlalu lemah justeru karena ia menghargai kehadiran orang-orang yang menurutnya penting.
namun karena sikap yang seperti itulah yang membuat ia mudah terluka ketika menyadari bahwa banyak sekali cinta palsu di dunia. entah berapa lama ia terus bertarung melawan kekerasan hatinya..........


*** To Be Continue ***
Sellicel
12 Feb 2014

Posting Komentar

Made with by OddThemes | Customized by duniaqtoy